Daniel Belajar Jadi Ahok

Daniel Belajar Jadi Ahok

Daniel Mananta Belajar bagaimana Jadi Ahok Lewat Tukang Kopi, Presenter Daniel Mananta.

Berlakon sebagai Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama dalam film biopic yang berjudul A Man Called Ahok.

Untuk bisa memainkan perannya sebagai sosok Ahok secara utuh,

Daniel pasalnya mengaku bahwa dirinya belajar dari banyak pihak meskipun sosok Ahok Result SIngapura masih hidup.

Salah satu pihak yang bisa ‘mengajari’ sosok Ahok adalah tukang kopi.

Tantangan Daniel Belajar Jadi Ahok: Logat Belitung

Tak bisa dipungkiri bahwa sosok Ahok ini memang mempunyai banyak sekali ciri khas.

Sudah sangat lekat di mata dan ingatan public seperti misalnya logat Belitungnya yang sangat kental,.

Suaranya yang serak, gaya berpakaian kaos dimasukkan ke dalam celananya sampai dengan gesture tangan yang sangat khas.

Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana blak-blakannya sosok Ahok ini saat berbicara di depan public.

Hal ini lah yang membuat Daniel mesti berusaha dengan sangat ekstra untuk mengimitasi sosok dari mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Namun, alih-alih merasa khawatir tentang menirukan suara serak Ahok, Daniel malahan lebih merasa tertantang berbicata dengan logat Belitung.

Hal ini karena kalau ia tidak teliti dalam memilih kata, maka ia bisa terpeleset lidah dan malahan berbicara dengan logat Malaysia.

Dirinya memang mengakui bahwa kedua bahasa ini mirip dan juga kerap sekali membuat dirinya terjebak.

“Yang paling sulit malah justru logat Belitungnya. Logat Belitung tuh beda sama logat Malaysia.

Memang sih mirip, makanya jadi kadang saya suka terjebak di situ,” jelas dirinya ketika jumpa pers di Epicentrum Mall, bulan lalu.

Film yang mana disutradarai oleh Putrama Tuta ini membuat Daniel harus berbahasa Khek.

Walaupun masih memiliki keturunan Tionghoa, pria yang sudah memiliki satu anak itu Cuma menggunakan

Bahasa Indonesia dan Inggris saja di dalam kehidupan sehari-harinya.

Daniel Belajar Jadi Ahok Menjadi Tukang Kopi

Daniel memang mempunyai pelatih aksen sendiri, namun ia kerap berbaur dengan masyarakat lokal untuk

bisa mendapatkan aksen asli yang membantu dirinya ‘menjadi’ sosok Ahok.

Ketika proses syuting tengah berlangsung,

Ia pernah juga berkunjung ke salah satu kedai kopi yang ada di daerah Manggar.

Pemilik dari kedai kopi tersebut adalah karakter Aliong yang juga diceritakan di dalam film itu.

“Di dalam film ini kan ada karakter Aliong tuh ya, nah di karakter Aliong itu aslinya masih ada dan dia jualan kopi.

Pas keliling-keliling gue stuck di situ karena kebetulan di sana ujan.

Akhirnya ya gue ngobrol sama dia dan gue minta dia buat ngomongin beberapa dialog gue,” tuturnya/

Tidak Cuma itu saja ia juga bahkan merekam bagaimana dialog-dialog dalam bahasa Khek tersebut diucapkan dan juga menyimpannya ke dalam HP nya.

“Iya, itu gue rekam juga dan gue dengerin berkali-kali. Jadi kalau misalnya gue mau ngucapin dialog gue, ya gue dengerin. Biar aksennya mirip,” imbuh Daniel.

Selain ia melakukan riset sendiri lewat YouTube, jiwanya sebagai Ahok dibangunnya dengan pondasi.

Di pembicaraannya dengan sosok Ahok langsung di Mako Brimob di hari kedua syuting.

“Ada satu pertanyaan yang pengen banget gue tanyain ke beliau yaitu bagaimana sih sebenarnya tanggapan dia ke bapaknya.

Karena kalau di keluarga Chinese, ngomong balik ke orang tua itu tabu,” tuturnya.

“Lalu Pak Ahok bilang justru itu yang buat keluarga dia itu beda sama keluarga Chinese yang lain.

Di keluarganya, ngga ada masalah (ngomong balik) asal kita yakin kalau apa yang kita omongin itu benar.

Adu argumennya positif,” tutupnya.

 

No Comments, Be The First!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.